Fibrodysplasia Ossificans Progressiva atau FOP merupakan kelainan genetik sangat langka yang menyebabkan tulang terbentuk di luar kerangka normal. Tulang baru dapat muncul pada otot, tendon, ligamen, fasia, dan jaringan ikat lain yang seharusnya tetap lentur. Keadaan ini secara bertahap membatasi gerakan tubuh dan dapat mengunci sendi secara permanen.
Penyakit tersebut sering dijuluki stone man syndrome. Sebutan ini memang mudah diingat, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan proses biologisnya. Tubuh pasien bukan berubah menjadi batu. Jaringan lunak mengalami pembentukan tulang heterotopik melalui proses yang menyerupai pembentukan tulang normal, hanya saja terjadi pada lokasi yang salah.
FOP diperkirakan ditemukan pada sekitar satu dari satu sampai dua juta orang. Penyakit ini dapat dialami perempuan maupun laki laki dari berbagai kelompok etnis. Karena jumlah pasien sangat sedikit, banyak tenaga kesehatan belum pernah menemui kasusnya secara langsung.
Kesalahan diagnosis menjadi persoalan serius. Benjolan saat flare up dapat dicurigai sebagai tumor, kanker, atau kelainan jaringan lain. Biopsi dan operasi yang dilakukan tanpa mengenali FOP justru berisiko memicu pembentukan tulang baru di area tindakan.
Pembentukan Tulang Terjadi di Luar Kerangka Normal
Tubuh manusia biasanya membentuk tulang melalui mekanisme yang teratur selama pertumbuhan, penyembuhan patah tulang, dan peremajaan jaringan. Pada FOP, jalur pembentukan tulang menjadi terlalu aktif sehingga jaringan lunak dapat menerima perintah biologis yang keliru.
Proses tersebut dikenal sebagai heterotopic ossification. Jaringan otot atau ikat mengalami peradangan, kemudian sebagian area berkembang menjadi tulang matang. Tulang yang terbentuk bukan sekadar endapan kalsium, melainkan jaringan tulang yang mempunyai struktur biologis.
Pembentukan tulang sering dimulai di sekitar leher, bahu, dan punggung bagian atas. Perkembangannya kemudian dapat bergerak menuju batang tubuh serta anggota gerak. Urutannya tidak selalu sama pada setiap pasien.
Beberapa jaringan biasanya tidak mengalami proses serupa, termasuk otot polos, otot jantung, diafragma, lidah, dan otot mata. Namun, keterbatasan pada area di sekitarnya tetap dapat mengganggu fungsi penting seperti bernapas, berbicara, makan, dan menjaga keseimbangan.
Tulang heterotopik tidak dapat dihilangkan begitu saja melalui pembedahan. Trauma operasi dapat memicu flare up baru dan menghasilkan pertumbuhan tulang tambahan, bahkan dalam jumlah yang lebih besar.
Perubahan Gen ACVR1 Menjadi Penyebab Utama FOP
Sebagian besar kasus FOP klasik berhubungan dengan perubahan pada gen ACVR1, yang juga dikenal sebagai ALK2. Gen tersebut membawa instruksi untuk membuat reseptor protein yang terlibat dalam jalur Bone Morphogenetic Protein atau BMP.
Jalur BMP membantu mengatur pembentukan serta perbaikan tulang. Pada pasien FOP, varian gen tertentu membuat reseptor ACVR1 menerima atau meneruskan sinyal secara berlebihan. Akibatnya, tubuh lebih mudah memulai pembentukan tulang di jaringan yang seharusnya tidak mengeras.
Varian yang paling sering ditemukan disebut ACVR1 R206H. Meski demikian, terdapat varian lain yang dapat menimbulkan gambaran klinis berbeda. Pemeriksaan genetik membantu memastikan jenis perubahan yang dialami pasien.
FOP diwariskan melalui pola autosomal dominan. Satu salinan gen yang berubah sudah cukup untuk menyebabkan penyakit. Namun, sebagian besar pasien lahir dari orang tua tanpa FOP karena perubahan gen muncul secara baru pada sel telur, sperma, atau awal perkembangan embrio.
Seseorang yang mempunyai FOP memiliki kemungkinan 50 persen mewariskan varian tersebut kepada setiap anak. Konseling genetik dapat membantu keluarga memahami pola pewarisan, pilihan pemeriksaan, dan berbagai pertimbangan reproduksi tanpa memaksakan keputusan tertentu.
“FOP memperlihatkan bahwa pembentukan tulang bukan hanya persoalan kalsium. Kesalahan sinyal pada satu jalur biologis dapat membuat tubuh membangun tulang yang normal secara struktur, tetapi berada di tempat yang keliru.”
Kelainan Jempol Kaki Menjadi Petunjuk Sejak Lahir
Salah satu petunjuk paling penting adalah kelainan bawaan pada jempol kaki. Banyak bayi dengan FOP lahir dengan jempol kaki yang pendek, membengkok ke dalam, atau mempunyai bentuk sendi yang tidak biasa.
Kelainan tersebut sudah tersedia sebelum pembentukan tulang heterotopik mulai terlihat. Karena itu, pemeriksaan bentuk jempol kaki dapat membantu dokter mencurigai FOP lebih awal.
Sebagian anak juga mempunyai perubahan pada ibu jari tangan, tulang belakang leher, leher tulang paha, atau sendi lainnya. Tidak semua pasien menunjukkan susunan kelainan yang persis sama.
Pada awal kehidupan, anak mungkin tampak sehat dan mampu bergerak seperti anak lain. Flare up pertama sering muncul dalam beberapa tahun pertama, meskipun waktu kemunculannya sangat bervariasi.
Benjolan yang terasa nyeri atau hangat dapat muncul pada kepala, leher, bahu, dan punggung. Benjolan bisa mengecil tanpa meninggalkan tulang, tetapi sebagian berkembang menjadi jaringan tulang baru.
Hubungan antara kelainan jempol kaki dan pembengkakan jaringan lunak perlu dikenali. Kombinasi tersebut merupakan petunjuk kuat untuk menghentikan tindakan invasif dan mencari penilaian dari dokter yang memahami FOP.
Flare Up Dapat Muncul dengan Nyeri dan Pembengkakan
Flare up merupakan episode ketika pasien mengalami pembengkakan, nyeri, rasa hangat, kemerahan, kekakuan, atau berkurangnya kemampuan bergerak pada area tertentu. Episode ini dapat berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu.
Setelah peradangan berkurang, sebagian pasien menemukan jaringan baru yang terasa keras. Area tersebut dapat berkembang menjadi tulang heterotopik dan membatasi rentang gerak.
Flare up tidak selalu menghasilkan tulang baru. Sebaliknya, pembentukan tulang kadang dapat berlangsung tanpa episode yang terlihat jelas. Hal ini membuat perkembangan FOP sulit diperkirakan.
Trauma menjadi pemicu yang sering dilaporkan. Benturan, jatuh, peregangan berlebihan, suntikan ke dalam otot, biopsi, tindakan gigi yang traumatis, dan operasi dapat memulai episode baru.
Infeksi virus tertentu, penyakit yang disertai demam, atau kelelahan fisik juga dapat berhubungan dengan flare up pada sebagian pasien. Meski demikian, episode dapat muncul tanpa pemicu yang dapat dikenali.
Pasien dan keluarga biasanya mencatat lokasi, durasi, gejala, serta kejadian sebelum flare up. Catatan tersebut membantu tim medis memahami pola individual dan menyiapkan langkah perlindungan.
Cedera Ringan Dapat Menjadi Persoalan Besar
Pencegahan trauma mempunyai peran utama dalam perawatan FOP. Tujuannya bukan melarang pasien beraktivitas, melainkan mengurangi risiko benturan dan tindakan medis yang dapat dihindari.
Lingkungan rumah dapat disesuaikan dengan memasang pegangan, mengurangi benda yang mudah membuat tersandung, menggunakan alas yang tidak licin, dan menyediakan ruang bergerak cukup luas. Pelindung kepala mungkin dipertimbangkan bagi anak yang sering jatuh setelah berkonsultasi dengan tenaga medis.
Olahraga dengan kontak fisik atau risiko jatuh tinggi biasanya dihindari. Aktivitas yang lebih aman dipilih berdasarkan kemampuan tubuh pasien, kondisi sendi, dan penilaian tim rehabilitasi yang memahami FOP.
Peregangan agresif tidak dianjurkan karena dapat mencederai otot dan memicu flare up. Fisioterapi harus dilakukan dengan sangat hati hati serta tidak memaksa sendi melewati rentang gerak yang tersedia.
Suntikan intramuskular juga perlu dihindari jika tersedia jalur pemberian lain yang aman. Keputusan mengenai vaksinasi harus dirancang bersama dokter karena perlindungan dari infeksi tetap penting, sementara teknik pemberiannya perlu memperhitungkan FOP.
Pasien sebaiknya membawa kartu informasi medis. Kartu tersebut dapat menjelaskan diagnosis, larangan biopsi sembarangan, perhatian terhadap suntikan intramuskular, serta kebutuhan penanganan jalan napas khusus.
Diagnosis Mengandalkan Pemeriksaan Klinis dan Genetik
Diagnosis FOP dimulai melalui pemeriksaan riwayat kesehatan, bentuk jempol kaki, pola pembengkakan, serta lokasi keterbatasan gerak. Dokter kemudian dapat meminta pemeriksaan gen ACVR1 untuk mengonfirmasi dugaan.
Pemeriksaan genetik biasanya menggunakan sampel darah atau air liur. Hasilnya perlu ditafsirkan oleh tenaga yang memahami hubungan antara varian gen dan gejala klinis.
Foto rontgen dapat memperlihatkan tulang heterotopik yang telah matang. Namun, pemeriksaan ini tidak selalu menunjukkan perubahan pada tahap awal flare up.
CT scan mampu menggambarkan tulang secara terperinci, tetapi paparan radiasi perlu diperhitungkan. MRI dapat menilai jaringan lunak, meski posisi tubuh selama pemeriksaan mungkin sulit bagi pasien dengan sendi yang telah terkunci.
Biopsi umumnya harus dihindari jika gambaran klinis serta pemeriksaan genetik mendukung FOP. Mengambil jaringan dari benjolan berisiko memicu pembentukan tulang tambahan.
Sebelum menjalani tes, pasien perlu memastikan posisi tubuh aman. Memaksa leher, bahu, pinggul, atau rahang ke posisi tertentu dapat menyebabkan cedera. Bantalan dan penyangga perlu disesuaikan dengan bentuk tubuh masing masing.
Informasi diagnosis dan ciri klinis FOP dijelaskan secara terperinci dalam GeneReviews dari National Library of Medicine.
FOP Sering Keliru Dianggap Tumor atau Penyakit Otot
FOP dapat menyerupai sejumlah penyakit lain ketika hanya dilihat dari benjolan. Pembengkakan yang cepat pada kepala atau punggung anak dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai tumor jaringan lunak.
Kesalahan diagnosis juga dapat mengarah pada dugaan fibromatosis agresif, sarkoma, lymphedema, atau kelainan otot tertentu. Jika dokter langsung melakukan biopsi, kondisi pasien berisiko memburuk.
Jempol kaki yang khas memberi pembeda penting. Riwayat benjolan yang muncul setelah trauma dan kemudian mengeras juga memperkuat kecurigaan.
Pemeriksaan laboratorium rutin tidak selalu memberikan petunjuk khusus. Penanda peradangan dapat meningkat selama flare up, tetapi hasil tersebut tidak cukup untuk menetapkan diagnosis.
Ketika FOP dicurigai, langkah yang lebih aman adalah menghentikan tindakan invasif dan menghubungi pusat penyakit langka, dokter genetika klinis, atau spesialis yang berpengalaman menangani pembentukan tulang heterotopik.
Diagnosis dini memungkinkan keluarga menghindari operasi, suntikan intramuskular, serta prosedur lain yang tidak diperlukan. Anak juga dapat memperoleh penyesuaian sekolah dan lingkungan sebelum keterbatasan gerak bertambah.
Gerakan Tubuh Dapat Berkurang Secara Bertahap
Tulang heterotopik dapat menghubungkan dua bagian kerangka yang sebelumnya terpisah. Ketika hal itu terjadi di sekitar sendi, gerakan menjadi sangat terbatas atau berhenti sepenuhnya.
Bahu yang terkunci dapat membuat pasien sulit mengangkat tangan. Perubahan pada siku dan pergelangan menyulitkan aktivitas makan, berpakaian, menulis, serta menjaga kebersihan diri.
Jika pinggul, lutut, atau pergelangan kaki terpengaruh, pasien dapat memerlukan alat bantu berjalan atau kursi roda. Penyesuaian sebaiknya dilakukan sebelum muncul keadaan darurat agar pasien sempat berlatih menggunakannya.
Perubahan pada rahang dapat mengurangi kemampuan membuka mulut. Pasien mungkin kesulitan mengunyah, membersihkan gigi, dan menerima tindakan kedokteran gigi.
Keterlibatan leher dan dinding dada dapat mengurangi ruang gerak untuk bernapas. Tulang di sekitar tulang rusuk, tulang belakang, serta bahu dapat menghasilkan thoracic insufficiency syndrome.
Kesulitan menelan meningkatkan risiko kekurangan gizi dan masuknya makanan ke saluran napas. Ahli gizi serta terapis menelan dapat membantu menentukan tekstur makanan dan cara makan yang lebih aman.
Gangguan Pernapasan Memerlukan Pengawasan Serius
Keterbatasan dinding dada membuat paru paru sulit mengembang secara penuh. Pasien dapat bernapas lebih pendek, cepat lelah, atau mengalami penurunan toleransi terhadap aktivitas.
Infeksi saluran pernapasan perlu ditangani dengan cepat karena cadangan pernapasan mungkin sudah terbatas. Demam, batuk berat, sesak, perubahan warna bibir, kebingungan, dan penurunan kesadaran memerlukan pertolongan medis segera.
Pemeriksaan fungsi paru dapat dilakukan apabila posisi dan kemampuan pasien memungkinkan. Hasil pemeriksaan membantu dokter menilai perkembangan serta kebutuhan dukungan.
Gangguan tidur juga perlu diperhatikan. Mendengkur keras, henti napas saat tidur, sakit kepala pada pagi hari, atau rasa mengantuk berlebihan dapat mengarah pada gangguan pernapasan malam.
Pasien yang memerlukan bantuan ventilasi membutuhkan perangkat dan masker yang sesuai. Tekanan berlebihan pada wajah atau rahang harus dihindari karena dapat menimbulkan cedera.
Jalan napas menjadi perhatian besar ketika pasien membutuhkan anestesi. Keterbatasan leher dan rahang dapat membuat pemasangan alat bantu napas sangat sulit. Perencanaan harus melibatkan ahli anestesi berpengalaman sebelum tindakan dilakukan.
Operasi Tidak Menjadi Cara Biasa untuk Mengangkat Tulang
Keinginan mengangkat tulang tambahan melalui operasi dapat dipahami, terutama ketika gerakan sangat terbatas. Namun, pembedahan pada FOP berisiko memicu flare up serta pertumbuhan tulang baru.
Operasi hanya dipertimbangkan dalam keadaan tertentu ketika manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya. Keputusan membutuhkan pembahasan bersama tim multidisiplin dan pakar FOP.
Tindakan kedokteran gigi juga perlu direncanakan. Pembukaan mulut secara paksa, suntikan anestesi pada otot rahang, atau peregangan sendi rahang dapat menimbulkan cedera.
Perawatan pencegahan gigi menjadi sangat penting. Menyikat gigi, menggunakan perangkat yang sesuai, mengurangi makanan tinggi gula, serta pemeriksaan teratur membantu menekan kebutuhan prosedur besar.
Jika anestesi dibutuhkan, petugas harus mengetahui posisi rahang, kemampuan leher, riwayat tulang heterotopik, dan fungsi paru. Teknik intubasi biasa mungkin tidak aman pada pasien tertentu.
Belum Ada Terapi yang Menghilangkan Seluruh Tulang Heterotopik
Perawatan FOP bertujuan mengurangi pembentukan tulang baru, menangani flare up, mempertahankan fungsi yang masih tersedia, serta mencegah komplikasi. Sampai sekarang, belum ada terapi yang dapat menghapus seluruh tulang heterotopik dan mengembalikan gerakan yang telah hilang.
Kortikosteroid kadang digunakan pada fase awal flare up tertentu berdasarkan penilaian dokter dan pedoman FOP. Obat ini tidak boleh digunakan sendiri tanpa arahan karena pilihan pasien, waktu pemberian, dosis, serta risikonya perlu diperhitungkan.
Obat antiperadangan dan pereda nyeri dapat dipilih untuk mengurangi keluhan. Setiap pasien mungkin mempunyai penyakit penyerta atau obat lain yang memengaruhi pilihan tersebut.
Terapi okupasi membantu pasien menyesuaikan cara melakukan kegiatan harian. Peralatan makan dengan pegangan khusus, alat bantu berpakaian, meja yang dapat diatur, dan perangkat kendali elektronik dapat meningkatkan kemandirian.
Fisioterapi berfokus pada aktivitas aman, postur, fungsi pernapasan, dan penggunaan alat bantu. Manipulasi keras serta peregangan paksa harus dihindari.
Dukungan psikologis juga diperlukan. Hidup dengan penyakit progresif yang sangat langka dapat menimbulkan rasa terisolasi, kecemasan, kesedihan, serta tekanan bagi seluruh keluarga.
Palovarotene Menjadi Obat Pertama yang Disetujui FDA
Pada Agustus 2023, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyetujui palovarotene dengan merek Sohonos. Obat tersebut digunakan untuk mengurangi volume pembentukan tulang heterotopik baru pada pasien FOP yang memenuhi kriteria usia.
Persetujuan FDA mencakup perempuan berusia delapan tahun atau lebih dan laki laki berusia sepuluh tahun atau lebih. Batas usia berhubungan dengan kematangan kerangka serta risiko penutupan lempeng pertumbuhan terlalu dini.
Palovarotene merupakan agonis reseptor retinoic acid gamma. Obat ini memengaruhi jalur yang terlibat dalam pembentukan tulang heterotopik, tetapi bukan penyembuh FOP.
Pemakaiannya memerlukan pengawasan ketat. Peringatan penting mencakup risiko cacat pada janin serta penutupan epifisis prematur pada pasien anak yang masih tumbuh.
Efek samping dapat meliputi kulit dan bibir kering, kerontokan rambut, ruam, gatal, mata kering, nyeri sendi, serta keluhan lain. Dokter perlu menilai obat yang sedang digunakan karena interaksi dapat terjadi.
Status persetujuan berbeda menurut negara. Pada 2023, Badan Obat Eropa menolak izin pemasaran Sohonos setelah menilai bukti manfaat dan risikonya. Karena itu, keberadaan persetujuan FDA tidak berarti obat otomatis tersedia atau disetujui di Indonesia.
Keterangan persetujuan dan batas usia dapat diperiksa melalui pengumuman resmi FDA mengenai Sohonos.
Penelitian Terus Mempelajari Jalur ACVR1
Penelitian FOP mengarah pada berbagai pendekatan, termasuk penghambatan sinyal ACVR1, antibodi terhadap activin A, pengaturan jalur pembentukan tulang, serta teknologi berbasis gen.
Uji klinis diperlukan untuk menentukan apakah suatu terapi benar benar mengurangi pembentukan tulang tanpa menimbulkan risiko yang terlalu besar. Hasil pada hewan atau penelitian laboratorium belum cukup untuk menetapkan terapi bagi manusia.
Jumlah pasien yang sangat sedikit menjadi tantangan bagi penelitian. Peneliti harus merekrut peserta dari berbagai negara sekaligus memakai metode pengukuran yang mampu mendeteksi perubahan secara akurat.
CT seluruh tubuh dosis rendah, pencatatan flare up, pengukuran fungsi, dan data pasien digunakan untuk memahami perjalanan penyakit. Setiap metode mempunyai keterbatasan sehingga hasilnya perlu ditafsirkan dengan hati hati.
Pasien yang mempertimbangkan uji klinis perlu membahas tujuan penelitian, kemungkinan menerima plasebo, risiko tindakan, perjalanan menuju pusat studi, dan perlindungan setelah penelitian selesai.
Produk yang dipasarkan melalui internet dengan klaim mampu melarutkan tulang atau memperbaiki gen perlu diwaspadai. Klaim tanpa bukti dapat menunda perawatan yang aman serta menimbulkan cedera.
Sekolah dan Rumah Perlu Disesuaikan dengan Kondisi Pasien
Anak dengan FOP tetap membutuhkan kesempatan belajar, bermain, berteman, dan menentukan pilihan. Penyesuaian lingkungan bertujuan menjaga keselamatan tanpa mengisolasi mereka.
Sekolah perlu mengetahui risiko jatuh dan benturan. Jalur menuju kelas dapat dibuat lebih aman, waktu perpindahan diperpanjang, serta aktivitas olahraga disesuaikan.
Meja, kursi, toilet, dan perangkat belajar harus mengikuti posisi tubuh anak. Memaksa anak duduk dalam postur standar dapat menimbulkan nyeri atau tekanan.
Rencana keadaan darurat perlu disimpan oleh guru serta petugas kesehatan sekolah. Dokumen tersebut mencantumkan diagnosis, kontak keluarga, dokter, dan larangan tindakan tertentu.
Di rumah, alat bantu sebaiknya dipilih bersama pasien. Pilihan yang melibatkan pengguna lebih mungkin diterima daripada perubahan yang diputuskan sepihak.
“Perawatan FOP tidak hanya berkaitan dengan obat. Pencegahan cedera, penyesuaian lingkungan, dan penghormatan terhadap pilihan pasien sama pentingnya dalam menjaga kualitas hidup.”
Keadaan Darurat Memerlukan Informasi Medis yang Jelas
Pasien FOP sebaiknya membawa identitas medis setiap saat. Informasi tersebut perlu menyebutkan risiko trauma, kesulitan jalan napas, keterbatasan posisi, serta perhatian terhadap suntikan dan operasi.
Petugas darurat harus menghindari pemindahan kasar. Tubuh pasien tidak boleh dipaksa berbaring rata jika sendi atau tulang belakang tidak memungkinkan posisi tersebut.
Jika terjadi patah tulang, penanganan harus melibatkan dokter ortopedi dan pakar FOP. Imobilisasi perlu diberikan tanpa menambah tekanan atau memaksa posisi sendi.
Kesulitan bernapas, tersedak, nyeri dada, cedera kepala, kelemahan mendadak, serta reaksi alergi berat memerlukan layanan darurat. Kekhawatiran mengenai flare up tidak boleh membuat keluarga menunda pertolongan untuk keadaan yang mengancam jiwa.
Pedoman perawatan internasional FOP diperbarui pada 2024 oleh International Clinical Council on FOP. Dokumen itu dapat dibagikan kepada dokter lokal agar tindakan disesuaikan dengan rekomendasi terbaru dan keadaan masing masing pasien.





