Prancis
Fashion

PINTU Satukan Mode Indonesia dan Prancis melalui Kolaborasi Kreatif

PINTU Satukan Mode Indonesia dan Prancis melalui Kolaborasi Kreatif

PINTU Satukan Mode Indonesia dan Prancis melalui Kolaborasi Kreatif Hubungan Indonesia dan Prancis dalam industri mode tidak lagi berhenti pada pameran busana atau kunjungan delegasi. Melalui PINTU, kedua negara membangun ruang kerja bersama yang mempertemukan desainer muda, perajin, sekolah mode, mentor bisnis, pengelola festival, hingga pembeli internasional.

PINTU merupakan platform pengembangan mode bilateral yang dibentuk pada 2022 oleh LAKON Indonesia, JF3 Fashion Festival, Institut Français d’Indonésie, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia. Program ini dirancang untuk membantu kreator muda menguatkan kemampuan desain, pengelolaan merek, keberlanjutan, perdagangan, dan kesiapan memasuki pasar internasional.

Kolaborasi tersebut memberi jalur dua arah. Desainer Indonesia mendapat kesempatan mempelajari ekosistem mode Paris, sedangkan kreator Prancis dapat tinggal di Indonesia, bekerja bersama perajin, serta mengenal teknik batik dan tenun secara langsung. Hasil pertemuan itu kemudian diterjemahkan menjadi koleksi, pameran, kegiatan residensi, pertukaran pelajar, serta pengembangan usaha.

PINTU Dibangun sebagai Penghubung Dua Ekosistem Mode

Nama PINTU mencerminkan fungsi program sebagai akses menuju pengetahuan dan jaringan yang lebih luas. Peserta tidak hanya mengikuti pelatihan singkat, tetapi menjalani rangkaian kurasi, pendampingan, kelas intensif, pengalaman ritel, peragaan busana, dan pengenalan pasar internasional.

Platform ini menempatkan mode sebagai perpaduan antara kreativitas dan kegiatan usaha. Sebuah koleksi yang menarik belum tentu berhasil dijual apabila desainernya belum memahami harga, biaya produksi, posisi merek, profil konsumen, pengemasan, komunikasi, serta kemampuan memenuhi pesanan.

PINTU memberikan pendampingan pada bagian tersebut melalui mentor dari Indonesia dan Prancis. Materi yang diberikan mencakup pengembangan produk, keberlanjutan, pembangunan merek, perdagangan, komunikasi, merchandising, dan penyusunan model usaha.

Program tersebut juga mendorong peserta tetap membawa ciri asalnya. Kreator Indonesia tidak diarahkan untuk sekadar mengikuti tampilan Paris. Mereka justru diminta mengolah pengetahuan dari Prancis tanpa meninggalkan keterampilan lokal, bahan daerah, atau hubungan dengan perajin.

Menurut penulis, kekuatan PINTU berada pada kemampuannya mempertemukan standar industri global dengan pengetahuan lokal tanpa menempatkan salah satunya sebagai pelengkap.

Perjalanan Dimulai Sejak 2022

Sejak dibentuk, PINTU berkembang dari program inkubasi menjadi ekosistem dengan beberapa jalur kegiatan. Peserta mengikuti seleksi sebelum memperoleh pendampingan dari mentor, pelaku industri, lembaga pendidikan, dan pengelola perdagangan mode.

Dalam tiga tahun pertama, PINTU mencatat ketertarikan dari lebih dari 10.000 merek. Sebanyak 51 peserta terpilih mengikuti inkubasi, sementara 86 mentor terlibat dalam program tersebut. Dari jumlah itu, 33 mentor berasal dari Prancis.

Jumlah peminat yang besar menunjukkan banyak label muda Indonesia membutuhkan jembatan antara kreativitas dan pengelolaan usaha. Tidak sedikit desainer mempunyai gagasan menarik, tetapi belum memiliki jaringan produksi, saluran penjualan, atau pengetahuan untuk berhadapan dengan pembeli internasional.

PINTU mencoba mengisi ruang tersebut. Seleksi peserta tidak hanya mempertimbangkan tampilan koleksi, tetapi juga kesiapan belajar, arah merek, kemampuan produksi, serta peluang pengembangan setelah masa pendampingan selesai.

Paris Menjadi Ruang Belajar dan Pengujian Pasar

Salah satu bagian penting dalam perjalanan PINTU adalah membawa peserta ke Paris. Kota tersebut tidak hanya dikenal melalui panggung peragaan, tetapi juga memiliki jaringan sekolah mode, museum, butik, rumah mode, perajin, agen penjualan, media, dan penyelenggara pameran dagang.

Peserta PINTU pernah tampil di Première Classe Paris Trade Show yang berlangsung bersamaan dengan Paris Fashion Week. Pameran ini memberi kesempatan kepada merek Indonesia untuk bertemu pembeli, kurator, jurnalis, dan pelaku usaha dari berbagai negara.

Kehadiran di pameran dagang berbeda dari tampil di peragaan busana. Koleksi harus siap diperiksa dari dekat. Pembeli dapat menanyakan bahan, harga grosir, kapasitas produksi, ukuran, waktu pengiriman, kualitas jahitan, serta kemampuan merek memenuhi pesanan dalam jumlah tertentu.

Pengalaman tersebut membantu peserta memahami bahwa pasar internasional menilai lebih dari keindahan visual. Konsistensi ukuran, ketepatan produksi, kualitas bahan, informasi perawatan, dan komunikasi setelah pesanan menjadi bagian yang sama pentingnya.

Peserta Mengenal Ekosistem Ritel Prancis

Selama berada di Paris, peserta PINTU juga mengunjungi pusat ritel dan lembaga mode. Kegiatan pernah mencakup kunjungan ke Le Printemps, Musée des Arts Décoratifs, École Duperré, Fondation Azzedine Alaïa, Le Samaritaine, Le Bon Marché, Le 19M, dan Palais Galliera.

Kunjungan tersebut membantu peserta melihat cara produk ditempatkan, dipajang, diterangi, dan dikelompokkan. Mereka juga mempelajari hubungan antara arsitektur toko, pelayanan, materi komunikasi, dan citra sebuah merek.

Di Le 19M, peserta dapat melihat kedudukan keterampilan tangan dalam industri busana kelas tinggi. Pekerjaan bordir, pengolahan tekstil, dan pembuatan detail tidak diposisikan sebagai kegiatan lama yang harus ditinggalkan, tetapi sebagai keahlian bernilai tinggi.

Pelajaran ini dekat dengan keadaan Indonesia yang memiliki banyak teknik tekstil tradisional. Tantangannya adalah membangun sistem agar keterampilan perajin memperoleh penghargaan layak, diterapkan dengan tepat, dan tidak sekadar digunakan sebagai hiasan.

École Duperré Memperkuat Jalur Pendidikan

Hubungan PINTU dan Prancis semakin kuat setelah penandatanganan nota kesepahaman dengan École Duperré Paris pada 28 Mei 2025. Penandatanganan dilakukan oleh pendiri PINTU, Thresia Mareta, dan Direktur École Supérieure des Arts Appliqués Duperré, Alain Soreil.

Acara tersebut disaksikan Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati dan Ketua JF3 Soegianto Nagaria di Rumah Tradisional Kudus, Bentara Budaya, Jakarta. Kerja sama mencakup pertukaran pelajar, program residensi, serta proyek kreatif yang melibatkan desainer muda dari Indonesia dan Prancis.

Kemitraan dengan sekolah mode memberi struktur pendidikan yang lebih jelas. Peserta dapat bertemu pengajar dan mahasiswa yang terbiasa melakukan riset bahan, eksperimen bentuk, pengembangan konsep, serta pengujian teknik.

Pertukaran tidak hanya mengirim desainer Indonesia ke Prancis. Mahasiswa Prancis juga memperoleh kesempatan memahami cara kerja kreator serta perajin di Indonesia. Hubungan semacam ini membuat pertukaran pengetahuan berlangsung dua arah.

Kolaborasi Mendapat Perhatian Pemerintah Prancis

Penandatanganan kerja sama dilakukan bersamaan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Prancis. Kehadiran Menteri Kebudayaan Prancis memperlihatkan bahwa PINTU dipandang sebagai bagian dari kerja sama kebudayaan, pendidikan, dan industri kreatif kedua negara.

Program tersebut juga disebut oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron ketika berpidato di Candi Borobudur pada 29 Mei 2025. PINTU diperkenalkan sebagai salah satu contoh hubungan kreatif yang mempertemukan institusi dan pelaku industri dari kedua negara.

Perhatian pada tingkat pemerintahan memberi peluang untuk memperluas jaringan. Namun, keberhasilan tetap bergantung pada kemampuan program memberi hasil nyata bagi peserta, mulai dari peningkatan mutu produk hingga terbukanya akses penjualan.

Residency Program Membawa Desainer Prancis ke Indonesia

Pada 2025, PINTU membuka Residency Program yang mengundang desainer muda Prancis untuk tinggal dan bekerja di Indonesia selama sekitar tiga bulan. Mereka mempelajari batik di Jawa serta mengenal teknik tenun di wilayah timur Indonesia.

Dua desainer Prancis yang dipilih pada penyelenggaraan awal adalah Kozue Sullerot dan Priscille Berthaud. Keduanya menjalani kegiatan bersama LAKON Indonesia dan bekerja dengan perajin untuk menyusun koleksi lintas budaya yang kemudian diarahkan menuju pameran di Indonesia dan Paris.

Residensi memberi pengalaman yang berbeda dibandingkan kunjungan selama beberapa hari. Desainer mempunyai waktu untuk mengamati tahapan pembuatan kain, memahami keterbatasan alat, berdiskusi dengan perajin, melakukan percobaan, serta memperbaiki rancangan.

Proses tersebut juga membantu mengurangi kesalahan ketika menggunakan unsur tradisional. Desainer dapat mengetahui asal teknik, kesulitan pengerjaan, waktu produksi, dan alasan di balik pilihan warna atau susunan motif.

Perajin Ditempatkan sebagai Rekan Kreatif

Dalam kolaborasi yang sehat, perajin tidak hanya menerima rancangan dan menjalankan pesanan. Pengetahuan mereka mengenai bahan dan teknik perlu masuk sejak tahap pengembangan koleksi.

Seorang perajin batik memahami bagaimana malam bergerak di atas kain, tingkat penyerapan warna, serta batas ketelitian pada garis tertentu. Penenun mengetahui hubungan antara serat, ketegangan benang, motif, dan ukuran kain.

Ketika pengetahuan itu dilibatkan sejak awal, desain dapat dibuat lebih sesuai dengan karakter teknik. Hasilnya tidak terlihat seperti bahan tradisional yang dipaksakan mengikuti bentuk tertentu.

PINTU berusaha menyediakan pertemuan semacam ini melalui residensi dan penciptaan koleksi bersama. Kreator Prancis membawa sudut pandang desain serta pengalaman pendidikan, sedangkan perajin Indonesia membawa keterampilan yang diwariskan dan terus dikembangkan.

JF3 Menjadi Panggung Pertemuan Karya

Selain membawa peserta ke Paris, PINTU menyediakan panggung di Indonesia melalui JF3 Fashion Festival. Acara ini digunakan untuk menampilkan hasil inkubasi sekaligus mempertemukan karya peserta dengan media, konsumen, pelaku ritel, dan mitra industri.

Pada JF3 Fashion Festival 2025, PINTU menghadirkan enam merek Indonesia, yaitu CLV, Dya Sejiwa, Lil Public, Nona Rona, Rizkya Batik, dan Denim It Up. Mereka tampil bersama mahasiswa École Duperré Paris, yakni Pierre Pinget, Bjorn Backes, dan Mathilde Reneaux.

Koleksi disusun dalam peragaan bertajuk “Echoes of the Future” yang mempertemukan warisan tekstil, eksperimen bentuk, keterampilan tangan, dan pendekatan mode kontemporer. Meskipun membawa identitas yang berbeda, setiap peserta berada dalam panggung bersama yang memperlihatkan proses pertukaran kreatif.

Peragaan juga menjadi ujian setelah enam bulan masa inkubasi. Peserta harus menyelesaikan koleksi dalam tenggat waktu, mengatur ukuran busana, memilih model, menentukan tata gaya, serta memastikan hasil akhir sesuai dengan arah merek.

Pengalaman Ritel Tidak Kalah Penting dari Peragaan

Sebuah koleksi dapat memperoleh perhatian saat tampil di panggung, tetapi kelangsungan merek ditentukan oleh kemampuan menjual produk secara teratur. Karena itu, PINTU tidak berhenti pada peragaan.

Program 2026 menyediakan pengalaman melalui Lakon Store Corner selama enam bulan. Peserta dapat melihat secara langsung tanggapan konsumen, produk yang paling sering dicoba, ukuran yang dibutuhkan, harga yang diterima pasar, dan cara penataan yang membantu penjualan.

Pengalaman ritel juga membantu desainer membedakan produk panggung dan produk dagang. Busana untuk peragaan dapat dibuat lebih eksperimental, sedangkan koleksi yang dijual perlu mempertimbangkan kenyamanan, perawatan, ukuran, dan kemampuan produksi berulang.

Informasi dari konsumen dapat digunakan untuk memperbaiki koleksi berikutnya. Desainer tidak harus mengubah seluruh identitas mereknya, tetapi dapat mengetahui bagian mana yang sulit diterima atau membutuhkan penjelasan tambahan.

Penulis menilai pengalaman bertemu konsumen sama berharganya dengan tampil di Paris karena sebuah merek hanya dapat bertahan ketika kreativitas berjalan bersama pengelolaan usaha yang disiplin.

Keberlanjutan Ditempatkan dalam Proses Produksi

PINTU memasukkan keberlanjutan sebagai salah satu bagian pendampingan. Pembahasan tidak cukup berhenti pada pemilihan bahan yang diberi label ramah lingkungan. Peserta juga perlu memeriksa asal bahan, jumlah produksi, sisa kain, umur pakai produk, upah perajin, dan kemungkinan perbaikan busana.

Bagi merek kecil, produksi terbatas dapat menjadi keuntungan karena jumlah barang lebih mudah disesuaikan dengan permintaan. Namun, harga per unit dapat lebih tinggi dan ketersediaan bahan sering tidak stabil.

Mentor membantu peserta menyusun keputusan berdasarkan kemampuan merek. Sebagian label dapat memakai sistem pemesanan terlebih dahulu. Merek lain dapat memanfaatkan sisa produksi atau membuat koleksi kecil yang dapat diproduksi ulang.

Keterampilan tradisional juga berkaitan dengan keberlanjutan apabila perajin memperoleh pekerjaan yang layak dan pengetahuan terus digunakan. Pelestarian tidak cukup dilakukan dengan menampilkan motif, tetapi membutuhkan hubungan usaha yang memberi manfaat kepada pembuatnya.

PINTU 2026 Memperluas Skema Penciptaan Bersama

Program PINTU 2026 kembali membuka pendaftaran bagi desainer serta pengusaha mode Indonesia berusia 18 hingga 35 tahun. Peserta yang dicari mencakup lulusan mode, pemilik label muda, kreator dengan pengalaman magang, serta individu yang mempunyai gagasan dan kemampuan pelaksanaan kuat.

Struktur kegiatannya mencakup Mentoring Class, Focus Week, seminar, peragaan JF3, pengalaman ritel, serta peluang mengikuti pameran nasional dan internasional. Peserta juga harus mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris karena sebagian pendampingan melibatkan mentor Prancis.

Dari pihak Prancis, program Immersion and Co Creation 2026 mengundang dua desainer muda untuk tinggal di Indonesia pada 1 April sampai 30 Juli 2026. Mereka dijadwalkan bekerja bersama desainer dan perajin Indonesia untuk membuat koleksi kapsul sebanyak enam tampilan.

Kegiatan tersebut mencakup pengenalan batik, tenun, penciptaan koleksi bersama, partisipasi dalam Indonesian Fashion Focus Week di Jakarta dan Cirebon, serta presentasi hasil pada JF3 Fashion Festival.

Kolaborasi Membuka Jalan ke Pasar Internasional

Akses internasional tidak hanya berarti mengirim koleksi ke luar negeri. Peserta perlu memahami cara berkomunikasi dengan pembeli, membuat daftar harga, menetapkan jumlah pesanan minimum, menyiapkan foto produk, serta menjelaskan waktu produksi.

Pembeli internasional juga dapat meminta informasi mengenai bahan, tempat produksi, dan kondisi kerja. Merek yang menggunakan batik atau tenun harus mampu menjelaskan keterlibatan perajin secara jelas.

PINTU memberi kesempatan kepada peserta untuk membangun kesiapan tersebut sebelum masuk pameran dagang. Pendampingan membantu kreator mengetahui apakah kapasitas produksinya cukup, apakah harga sudah memasukkan seluruh biaya, dan apakah identitas merek dapat dipahami oleh orang yang belum mengenal Indonesia.

Hubungan dengan Prancis memberi akses menuju salah satu pusat industri mode dunia. Di sisi lain, pihak Prancis memperoleh jalur untuk mengenal kekayaan tekstil, keterampilan tangan, dan pasar kreatif Indonesia melalui kerja langsung, bukan sekadar pengamatan dari luar.

Program 2026 menempatkan kolaborasi itu pada tahapan yang semakin terstruktur. Desainer Prancis bekerja bersama perajin Indonesia, peserta Indonesia menerima pendampingan dari kedua negara, dan hasilnya diuji melalui panggung, ritel, serta pertemuan dengan jaringan industri.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *