Jalurmedia.com – Nilai tukar rupiah pada Senin (14/2/2022) pagi tercatat menjadi Rp 14.348 terhadap dolar AS, dan rupiah yang menjadi mata uang yang turun 1 poin (0,01%) dari kurs sebelumnya yakni pada Rp 14.347.
Sementara itu, sebagian besar mata uang Asia juga ikut melemah pagi ini. Untuk won Korea Selatan melelah 0,05%, peso Filipina 0,11%, yuan China 0,12% dan dolar Hong Kong stagnan pada posisinya.
Di sisi lain, untuk mata uang ringgit Malaysia turun 0,05%. Sementara yen Jepang naik 0,05% dan dolar Singapura naik 0,01%. Sedangkan dolar Taiwan turun 0,15%.
Mata uang negara maju pagi ini bergerak ke beberapa arah. Euro naik sebesar 0,03%, dolar Australia turun 0,13%, dolar Kanada turun 0,01%, franc Swiss naik 0,11%, dan pound Inggris minus sebesar 0,7%.
Nilai Tukar Rupiah Akan Melemah Terhadap Dolar AS
Analis pasar keuangan Ariston Chandra memperkirakan bahwa rupiah dapat melemah terhadap dolar AS. Ini terjadi sebagai akibat dari pasar yang khawatir akan kemungkinan perang di perbatasan Rusia-Ukraina. Ketegangan tengah terjadi di antara kedua negara tersebut.
Akhir pekan lalu bahwa Rusia mencoba untuk menyerang Ukraina dan pemerintah AS menyerukan warga yang tinggal di Ukraina untuk segera meninggalkan negara tersebut.
Jika Rusia menyerang Ukraina, negara-negara NATO akan campur tangan dan meningkatkan kemungkinan perang. Perang skala besar akan berkontribusi pada melemahnya ekonomi global.
Sementara itu, menurut Ariston, pasar valas masih dibayangi oleh kenaikan inflasi yang mengkhawatirkan para pelaku pasar.
Hiperinflasi juga bisa mengekang pertumbuhan ekonomi, kata Ariston. Berkontribusi pada kenaikan inflasi global karena harga minyak mentah terus meningkat di tengah kekhawatiran perang.
Selain itu, meningkatnya ekspektasi politik terhadap pengetatan inflasi AS, seperti data inflasi AS, diperkirakan akan semakin menekan rupiah. Tidak hanya itu, kejadian ini juga diprediksi akan menekan Indeks Harga Konsumen AS.
“Langkah-langkah penghematan di Amerika Serikat dapat mendorong dolar naik di masa depan,” katanya.
Sementara dari dalam negeri, Ariston menyebut kasus baru covid-19 yang terus naik mendekati kasus baru puncak gelombang ke-2 tahun lalu akan memberikan tekanan ke rupiah. Diproyeksikan hari ini rupiah tertekan di kisaran level Rp14.330-Rp14.400 per dolar AS.
Konflik Rusia-Ukraina Juga Pengaruhi Harga Minyak Dunia
Harga minyak dunia naik pada level 3% pada Jumat 11 Februari 2022 waktu AS atau Sabtu pagi (12 Februari 2022) WIB. Kenaikan tersebut telah mencapai level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Dikutip dari Antara, minyak mentah Brent yang dikirim pada April naik $3,03 atau 3,3% menjadi $94,44 per barrel.
Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik $3,22 (3,6%) per barrel menjadi $93,10.
Kedua benchmark ini mencapai level tertingginya sejak akhir 2014 silam, melampaui level tertinggi pada Senin 07/02/2022 dan naik untuk minggu kedelapan berturut-turut.
Analis mengatakan kenaikan harga minyak disebabkan oleh ketegangan politik antara Rusia dan Ukraina. Amerika Serikat mengklaim bahwa Rusia telah mengumpulkan cukup pasukan untuk menyerang Ukraina dalam waktu dekat.
Oleh karena itu, AS menuntut agar semua warga negara, bukan hanya AS, meninggalkan Ukraina dalam waktu 48 jam.
Banyak negara seperti juga Inggris yang menyarankan warganya atau perwakilan dari negaranya untuk meninggalkan Ukraina. Posisi Rusia sebagai salah satu produsen energi terbesar di dunia telah menimbulkan kekhawatiran bahwa ketegangan akan mempengaruhi pasokan dan menaikkan harga minyak, kata para analis.
Kita tahu bahwa invasi tersebut menghasilkan sanksi pembalasan yang memutus pasokan gas alam dan minyak. Kemudian hal ini yang mendorong harga naik,” kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates yang berbasis di Houston.
Selain ketegangan tersebut, minyak juga didukung oleh ekspektasi pasar akan pemulihan permintaan setelah pandemi virus corona. Ekspektasi telah meningkat setelah Badan Energi Internasional (IEA) menaikkan perkiraan permintaan global 2022 sebesar 3,2 juta barel per hari ke rekor tertinggi 106 juta barrel.
Laporan Energy Watchdog dirilis awal pekan ini karena Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperkirakan bahwa pemulihan ekonomi dari pandemi dapat menyebabkan peningkatan permintaan minyak global yang signifikan mulai tahun ini.





