Opini, Jalurmedia.com – Ratu Kalinyamat adalah tokoh wanita yang terkenal akan kegigihannya sebagai seorang pemimpin di Jepara. Tidak hanya cantik, namun ia juga memiliki kepribadian yang “jantan”. Orang Portugis memanggilnya De Kranige Dame, yang berarti “wanita pemberani”. Dahulu kala, seorang Penulis Portugis Diego de Couto menggambarkan kehebatan Ratu Kalinyamat sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica dalam hubungannya dengan Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan berkuasa yang memerintah selama 30 tahun. Dia berhasil membawa kota Jepara pada puncaknya.
Ratu Kalinyamat adalah seorang wanita Indonesia yang berperan penting pada abad ke-16 dan perannya menjadi lebih penting dalam perebutan tahta kerajaan Demak dan menjadi tokoh utama dalam keputusan tersebut. Dia tidak hanya memiliki karakter yang kuat untuk menuntut kepemimpinan. Ia juga menduduki posisi strategis sebagai putri Sultan Turungana, raja ketiga Demak. Sultan Terengganu adalah putra Raden Fatah, pendiri Sultan Demak.
Selama tiga puluh tahun masa pemerintahannya, Ratu Kalinyamat berusaha memuliakan Jepara dengan armada yang sangat kuat. Tak hanya itu, Ratu Kalinyamat terkenal akan kegigihannya terutama dalam hal berani untuk berulang kali menyerang Portugis di Malaka.
Kisah hidup Ratu Kalinyamat
Ratu Kalinyamat dianugerahi gelar Adipati Jepara pada usia dini. Kadipaten tersebut antara lain Jepara, Pati, Kudus, Rembang, dan Blora yang memiliki kerajaan kecil di Kriya. Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangeran Hadiri. Pangeran Hadiri adalah putra dari Sultan Ibrahim dari Aceh, yang menjabat sebagai Sultan Muhayat Syah ketika dia masih muda. Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, ia dipanggil Pangeran Toyib. Ia dijuluki Pangeran Haidi yang artinya Tamu (dari Aceh ke Jepara).
Pernikahan kerajaan antara Ratu Kalinyamat dan pangeran tidak berlangsung lama. Pada tahun 1549, Pangeran Haidi dibunuh oleh duta besar Arya dari Penang. Pembunuhan itu terjadi setelah menghadiri pemakaman saudaranya yakni Sunan Prawoto. Yang Mulia Sunan Prawoto juga meninggal karena dibunuh oleh Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat pindah ke desa Danarasa setelah bertapa di Gelang Mantingan. Kemudian Ratu Kalinyamat tiba di Donorojo, Tulakan, Kelling, Jepara.
Setelah kematian Arya Penangsang, Retna Kencana diangkat menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini ditandai dengan adanya sebuah sengkalan Trus Karya Tataning Bumi, yang dilakukan pada perhitungan Rabi ke-12 pada 10 April atau 1549. Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara menjadi pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa.
Dan meskipun dalam pernikahan ada armada yang besar dan kuat, Ratu Kalinyamat tidak memiliki anak. Dia merawat banyak anak. Salah satu anak angkatnya adalah kakaknya, Pangeran Timur. Ia masih sangat muda ketika Sultan Trenggana meninggal, dan di masa dewasa Pangeran Timur menjadi Adipati Madiun, juga dikenal sebagai Panembahan Madiun.
Ratu Kalinyamat di bidang politik dan ekonomi
Peran politik Ratu Karniamat dimulai pada pertengahan abad ke-16 ketika Kerajaan Demak dipertaruhkan karena perebutan kekuasaan setelah masa Sultan Trenggana. Perebutan tahta menyebabkan perang yang panjang dan berakhir dengan jatuhnya kerajaan.
Perebutan kekuasaan pun terjadi antara keturunan Pangeran Sekar dengan Pangeran Trenggana. Atas perebutan kekuasaan ini menyebabkan pertempuran yang cukup hebat dari internal kerajaan. Dari segi usia, Pangeran Sekar jauh lebih tua dari Pangeran Trenggana, dimana karena faktor tersebut ia pantas mendapatkan tahta Kerajaan Demak. Namun Pangeran Sekar lahir dari istri ketiga Adipati Zeban putri Raden Patah. Sedangkan Pangeran Trenggana lahir dari istri pertama, putri Sunan Ampel. Oleh karena itu, Pangeran Trenggana merasa layak menduduki tahta kerajaan Demak.
Tak hanya itu, pertempuran kemudian juga terus terjadi atas perebutan kekuasaan dari Arya Penangsang yang telah membunuh saudara dan suami dari Ratu Kalinyamat. Setelah kematian Arya Penangsang, Retna Kencana dinobatkan sebagai penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara, menciptakan sosok perempuan di hati keluarga Sultan Demak dan berperan penting dalam politik. Ini adalah pemerintahan yang sangat penting. Sementara itu, sosok baru, Homonus, yang juga dikenal sebagai Kadi Vijaya Sultan, telah muncul.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara mengalami perkembangan tersendiri. Ia dikalahkan dalam pertempuran laut melawan Malaka pada masa pemerintahan Pati Unus antara tahun 1512 dan 1513. Jepara hampir hancur pada masa itu. Kegiatan ekonomi menjadi semakin terabaikan karena tanah Kesultanan Demak melawan Arya Penangsang. Namun, perdagangan dari sisi laut masih berkembang dan tetap berlangsung.
Dalam bidang ekonomi memang sempat terabaikan setelah pertempuran internal dalam kerajaan. Namun, setelah beberapa tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat mampu memulihkan kembali Perekonomian Jepara. Ratu Kalinyamat mengutamakan integrasi ekonomi. Pada pertengahan abad ke-16, perdagangan dengan negara lain terus meningkat di bawah kendalinya. Pedagang dari kota-kota pelabuhan Jawa seperti Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik dan Jepara telah menjalin hubungan dengan Pasar Internasional Malaka.
Strategi wilayah Ratu Kalinyamat
Kekuatan Ratu Kalinyamat dapat diukur dari pengaruhnya yang besar dimana kekuasaannya merambah ke wilayah Banten. Kekuasaan Ratu Kalinyamat di pesisir utara Jawa Barat sangat kaya. Tidak hanya karena posisi politiknya, tetapi juga untuk kekayaan yang diperoleh dari perdagangan bersama di pelabuhan Jepara. Sebagai seorang ratu dan wanita dengan posisi politik yang kuat dan ekonomi yang kaya, Ratu Kalinyamat memiliki pengaruh besar di pulau Jawa.
Setelah tiga tahun pemerintahan Ratu Kalinyamat, armada Jepara menjadi lebih kuat. Laporan berita Portugis tentang hubungan antara Ambon dan Jepara. Ratu Kalinyamat juga dengan upayanya dan kegigihannya melawan portugis yang ingin terus melakukan invasi dan memasuki wilayah Jepara dan sekitarnya.
Pemerintah Ratu Kalinyamat dikatakan akan memprioritaskan strategi pembangunan kota Jepara untuk memperkuat sektor komersial dan angkatan laut. Kedua kerajaan tersebut akan berkembang pesat melalui kerjasama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon. Hal ini berarti Ratu Kalinyamat harus menjalin hubungan diplomatik dan kerjasama dengan negara lain untuk memantapkan posisi Jepara sebagai pusat kekuasaan dan juga dalam bidang perdagangan.





