News

Alasan FIFA Larang Penggunaan Gas Air Mata di Stadion

Jalurmedia.com –  FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) telah melarang penggunaan gas air mata selama pertandingan sepak bola sesuai dengan Peraturan Keamanan Stadion FIFA.

Sedikitnya 182 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka dalam tragedi sepak bola di Stadion Kanjuruhan Malang usai pertandingan Arema vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10).

Selama kerusuhan, polisi terlihat menggunakan gas air mata untuk menekan massa yang masuk ke lapangan.

Penggunaan gas air mata telah dilarang oleh FIFA berdasarkan Pasal 19b Peraturan Keamanan Stadion FIFA.

“Senjata api dan gas tidak boleh dibawa atau digunakan untuk memadamkan kerusuhan,” bunyi peraturan itu.

Pasal 19 sendiri membahas tentang aturan bagi petugas lapangan dan polisi untuk menjaga ketertiban di stadion selama pertandingan.

“Untuk melindungi atlet dan ofisial serta menjaga ketertiban umum, mungkin perlu mengerahkan petugas lapangan dan/atau polisi di sekitar lapangan pertandingan. Untuk itu, rekomendasi berikut harus dipertimbangkan,” lanjutan dari aturan tersebut.

Oleh karena itu, polisi harus memperhatikan larangan gas air mata saat memantau ketertiban di stadion.

Apa Bahaya Gas Air Mata?

Secara terpisah, banyak peneliti telah mengidentifikasi alasan mengapa gas air mata harus dilarang dalam berbagai bentuk pengendalian kerusuhan.

Dalam studi University of Toronto yang berjudul ” The Problematic Legality of Tear Gas Under International Human Rights Law “, peneliti menemukan bahwa salah satu alasan senjata dan gas air mata harus dilarang adalah dampaknya terhadap kesehatan mereka yang terpapar.

“Studi menunjukkan bahwa paparan yang berkepanjangan, dalam bentuk yang terlihat pada protes, membuat orang yang terkena [gas air mata] berisiko terkena banyak penyakit, termasuk tertular penyakit pernapasan seperti COVID-19,” ujar Vincent Wong sebagai Research Associate. Pengawasan Hak Asasi Manusia Internasional (IHRP), University of Toronto Rights Law dan rekan penulis studi William C.

Selain efek kesehatan, gas air mata memiliki berbagai efek dan dapat mempengaruhi tidak hanya massa tetapi juga orang-orang di sekitar mereka.

Menurut Eurekalert, gas air mata tidak bisa membedakan antara tua dan muda, sehat dan sakit, damai dan kacau.

Selain itu, saat tragedi Kanjuruhan, gas air mata membuat penonton lari menghindari gas air mata. Hal inilah yang pada akhirnya membuat kepanikan, menyebabkan mereka berdesakan, terhimpit, bahkan terinjak saat berupaya mencari jalan keluar dari stadion. Ironisnya, kejadian ini menciptakan kematian massal.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *