Jalurmedia.com – Virus Covid-19 yang terdapat pada tubuh dapat dideteksi menggunakan melalui tes swab antigen atau Polymerase Reaction Chain (PCR). Namun memang kedua jenis tes ini memiliki tingkat akurasi yang berbeda.
Tidak jarang jika orang ataupun pasien yang antigennya positif akan diminta menjalani pemeriksaan PCR untuk memastikan apakah ada virus dari Covid-19 yang bersarang di tubuhnya. Jadi mana yang sebaiknya dilakukan, melakukan tes antigen terlebih dahulu atau langsung PCR?
Juru bicara satgas Covid-19 Dr Reisa Broto Asmoro menjelaskan bahwa kedua tes tersebut sama efektifnya dalam mendeteksi virus Covid-19 di dalam tubuh. Tes PCR harus segera dilakukan, bukan antigen.
Benarkah PCR Lebih Baik?
Dalam wawancara langsung Instagram dengan Kementerian Kesehatan, Dr Reisa mengatakan bahwa diagnosis PCR adalah yang terbaik. Selain itu, PCR juga sensitivitasnya bervariasi. Dr Reisa juga menyatakan tes PCR sekarang tidak mahal dan tersedia di banyak tempat perawatan kesehatan.
Dia menambahkan bahwa antigen sebenarnya bisa digunakan. Namun, tes ini dilakukan untuk skrining pasien. Ketika hasil tes untuk Covid-19 positif setelah tes antigen maka pasien tersebut juga harus menjalani tes PCR.
“Kalau Anda merasa demam, maka bisa mendeteksi dengan tes swab antigen. Namun kalau ada kontak dekat dengan pasien positif Covid-19, sebaiknya langsung pakai PCR,” kata Reisa.
Dalam hal ini, Dr Reisa juga menjelaskan mengapa banyak tes seringkali memberikan hasil yang berbeda. Misalnya, jika Anda menguji di satu tempat dan hasilnya positif, Anda mencoba tes di tempat lain dan hasilnya negatif. Dalam praktiknya, tes dilakukan setelah beberapa jam atau sehari setelah merasakan gejala atau melakukan kontak dengan pasien yang positif Covid-19.
“Bisa saja terjadi, tapi tidak sering. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi ini,” imbuh Dr Reisa.
Dr Reisa juga menjelaskan bahwa saat sampel diambil, muncul kata false negative atau negatif palsu. Misalnya, karena tesnya terlalu dini, virus tidak terlalu ada di dalam tubuh dan tidak bisa dideteksi.
“Makanya ketika tes di hari ini negatif, lalu kok saya bergejala ya. Tes lagi besoknya, eh positif. Ini bisa terjadi ya seperti itu,” kata Reisa.
Kemudian, menurut Reisa, ada alasan lain seperti salah sampling hingga terkontaminasi sampel lain yang kemudian dapat mengakibatkan kerusakan sampel itu sendiri.
“Bisa jadi karena human error. Kata benda sebagai kata kerja layanan adalah sesuatu yang salah, tetapi kemungkinannya sangat rendah. Tapi tidak dapat dipungkiri jika itu benar-benar bisa terjadi,” ungkap Reisa.
Perbedaan Antigen dan PCR
Tes antigen dan PCR adalah dua jenis tes yang berbeda. Beberapa perbedaan dari kedua jenis tes ini seperti yang pertama adalah perbedaan harga dimana tes PCR memiliki harga yang lebih mahal jika dibandingkan dengan tes antigen.
Tes swab antigen memakan waktu 30-60 menit. Penggunaan PCR kit masih terbatas, namun proses pengujian PCR hanya membutuhkan waktu sehari. Namun, karena banyaknya sampel yang diuji, dibutuhkan waktu hingga satu minggu untuk mendapatkan hasil PCR, yang juga berkorelasi dengan keakuratan pengujian.
Perlu Anda ketahui bahwa polymerase chain reaction (PCR) adalah tes komplementer paling akurat untuk mendeteksi virus corona. Akurasinya bisa mencapai 80-90%, namun tes swab antigennya kurang akurat dibandingkan tes PCR.
PCR dan swab test antigen sama-sama menggunakan lendir dari hidung atau tenggorokan sebagai sampel. Proses pengambilan lendir ini melalui swab.





