Anne Hathaway Serba Merah di Premiere Devil Wears Prada 2, Pesannya Tajam
Anne Hathaway Serba Merah di Premiere Devil Wears Prada 2, Pesannya Tajam Anne Hathaway kembali mencuri perhatian saat menghadiri premiere The Devil Wears Prada 2 di Lincoln Center, New York, pada 20 April 2026. Penampilannya langsung jadi bahan pembicaraan karena ia datang dengan gaun merah satin custom Louis Vuitton, warna yang sangat mencolok di tengah karpet merah film yang sejak awal identik dengan dunia mode, ambisi, dan simbol status. PEOPLE mencatat premiere sekuel ini menjadi ajang reuni besar para pemeran utama dua dekade setelah film pertamanya tayang pada 2006, sementara Reuters menampilkan Hathaway sebagai salah satu pusat perhatian utama malam itu.
Yang membuat penampilan ini terasa lebih penting adalah konteks filmnya. The Devil Wears Prada bukan sekadar film populer tentang mode, tetapi juga karya yang sangat kuat dalam membentuk citra Anne Hathaway sebagai Andy Sachs, tokoh yang bergerak dari sosok polos ke figur yang makin paham permainan citra, pakaian, dan kuasa di industri fashion. Karena itu, ketika Hathaway memilih tampil serba merah di premiere sekuelnya, publik tidak melihatnya sebagai pilihan warna biasa. Vogue bahkan menyebutnya tampil seperti “devil in a red dress”, sebuah frasa yang langsung mengikat gaun itu dengan identitas filmnya sendiri.
Penampilan serba merah itu lalu memicu satu pertanyaan yang sangat menarik: apa yang sedang ingin disampaikan lewat pilihan visual tersebut. Dalam dunia premiere film fashion, pakaian bukan hanya soal indah dilihat. Ia sering bekerja sebagai isyarat, pembuka percakapan, bahkan jembatan antara karakter lama dan arah baru cerita. Dalam kasus Anne Hathaway, gaun merah itu terasa seperti keputusan yang sangat sadar, sangat terukur, dan sulit dipisahkan dari pembicaraan tentang posisi Andy Sachs di film kedua ini.
Merah yang dipilih bukan merah yang pasif
Dari berbagai laporan yang muncul setelah premiere New York, satu detail tampil sangat jelas: gaun Anne Hathaway bukan sekadar merah, tetapi merah yang memang dibangun untuk mendominasi ruang. Vogue menulis Hathaway mengenakan custom Louis Vuitton berwarna merah satin dengan siluet yang halus tetapi tetap tegas, sedangkan Business Insider mencatat tampilannya seolah dibuat untuk menyatu dengan angka 2 merah pada materi promosi film. Ini berarti warna gaunnya tidak berdiri sendiri, tetapi sengaja berhubungan dengan identitas visual sekuel tersebut.
Pilihan ini terasa cerdas karena merah adalah warna yang sangat mudah dibaca dalam dunia mode. Ia bisa berarti kuasa, keberanian, godaan, bahaya, ambisi, atau sorotan. Dalam konteks The Devil Wears Prada 2, semua lapisan itu terasa relevan. Film ini kembali masuk ke dunia fashion yang keras, penuh hirarki, dan selalu menilai orang dari tampilan pertama. Jadi, ketika Hathaway datang dengan merah penuh, ia seperti langsung menyatakan bahwa karakter yang dulu dianggap canggung itu kini hadir dengan kesadaran visual yang jauh lebih matang. Ini adalah pembacaan yang diperkuat oleh cara Vogue dan Business Insider menghubungkan gaun merah itu dengan aura film dan materi promosinya.
Merah juga bekerja sangat berbeda dibanding warna aman seperti hitam, putih, atau nude. Warna aman biasanya memberi ruang bagi siluet dan perhiasan untuk berbicara. Merah justru mengambil alih sejak awal. Ia memaksa semua mata melihat lebih dulu, baru kemudian membaca detail lainnya. Untuk seorang aktris yang datang ke premiere film mode legendaris, keputusan seperti ini terasa sangat tepat. Hathaway tidak muncul untuk berbaur. Ia muncul untuk menguasai frame.
Sebelum melihat lebih jauh ke arah pembacaan visualnya, penting juga melihat bagaimana penampilan itu berdiri dalam sejarah karakter Andy Sachs yang ia perankan.
Penampilan ini terasa seperti jawaban atas perjalanan Andy Sachs
Di film pertama, Andy Sachs masuk ke Runway sebagai outsider. Ia cerdas dan punya bakat, tetapi belum memahami bahasa visual dunia yang ia masuki. Sebagian besar perkembangan karakternya justru terlihat dari transformasi pakaian. Dari sana, publik belajar bahwa di semesta The Devil Wears Prada, busana bukan pelengkap, melainkan bahasa kuasa. Ketika premiere sekuelnya tiba dan Hathaway memilih tampil sangat sadar gaya, hubungan ke karakter itu terasa nyaris tak terhindarkan. PEOPLE menulis para pemain utama memperlihatkan evolusi gaya yang mencerminkan perkembangan karakter mereka dua dekade setelah film pertama.
Dalam bingkai itu, gaun merah Hathaway seperti memberi isyarat bahwa Andy Sachs tidak lagi datang sebagai orang yang bingung membaca ruang. Ia terasa seperti seseorang yang kini tahu betul cara masuk ke ruangan, cara mencuri fokus, dan cara memanfaatkan mode sebagai alat berbicara. Tentu ini bukan kutipan resmi tentang alur cerita film. Tetapi sebagai pembacaan visual premiere, pilihan pakaian tersebut sangat mudah menuju ke sana. Terlebih The Devil Wears Prada selalu punya hubungan sangat erat antara busana dan posisi karakter di dalam dunia yang mereka tempati.
Menariknya, Reuters dan PEOPLE sama sama menunjukkan bahwa malam premiere itu bukan hanya ajang tampil cantik, tetapi benar benar parade mode dari para bintang utama. Meryl Streep, Emily Blunt, dan Anne Hathaway semua datang dengan penampilan yang sangat diperhitungkan. Dalam lingkungan sekuat itu, Hathaway tetap berhasil menonjol. Itu memperkuat kesan bahwa merah yang ia pilih bukan keputusan asal aman, melainkan strategi visual yang memang disiapkan untuk membuatnya tetap menjadi pusat pembicaraan.
Dari sini, penampilannya bisa dibaca sebagai semacam jembatan antara Andy yang dulu dan Andy yang sekarang, atau setidaknya antara memori publik tentang karakter itu dan rasa penasaran terhadap arah sekuelnya.
Merah memberi jarak dari citra lama yang terlalu aman
Anne Hathaway selama bertahun tahun sering tampil dengan estetika yang elegan, halus, dan sangat polished. Ia bisa tampil glamor, tetapi cukup sering memilih jalur yang tetap terasa klasik. Karena itu, ketika ia masuk ke premiere The Devil Wears Prada 2 dalam balutan merah menyala, hasilnya terasa lebih keras daripada biasanya. Vogue secara langsung memberi penekanan pada intensitas tampilan itu, sementara Business Insider menempatkannya sebagai salah satu penampilan paling berhasil di premiere.
Ini penting karena premiere film mode bukan tempat untuk tampil setengah tenaga. Jika Hathaway datang dengan gaun hitam elegan misalnya, ia tetap akan terlihat cantik, tetapi efek percakapannya mungkin tidak sekuat ini. Merah memberi jarak dari pilihan yang terlalu aman. Ia mengirim kesan lebih tajam, lebih sadar, dan lebih siap dilihat dari segala sisi. Dalam dunia fashion, warna seperti ini juga sering dipakai ketika seseorang ingin menegaskan bahwa ia datang bukan untuk sekadar hadir, tetapi untuk memberi pernyataan visual yang utuh.
Pembacaan seperti itu makin kuat ketika melihat posisi Anne Hathaway di waralaba ini. Ia adalah wajah penonton dalam film pertama, orang yang dulu masuk ke dunia Miranda Priestly dengan rasa asing. Sekarang, justru ia yang datang ke premiere dengan salah satu penampilan paling tegas malam itu. Ada pembalikan posisi yang sangat menarik di sana. Dan walau gaun di red carpet bukan spoiler cerita, ia tetap bisa dibaca sebagai gestur bahwa karakter maupun aktornya kini tidak lagi berada di pinggir ruangan.
Sesudah membicarakan soal warnanya, bagian lain yang juga penting adalah bagaimana gaun itu dibangun secara rumah mode dan citra merek.
Louis Vuitton memberi kesan mewah, tetapi tetap terukur
Pilihan Louis Vuitton untuk premiere ini juga bukan hal kecil. Vogue dan PEOPLE sama sama menegaskan bahwa Hathaway mengenakan gaun custom dari rumah mode tersebut. Dalam semesta The Devil Wears Prada, nama rumah mode selalu penting karena busana bukan cuma pakaian, tetapi lambang posisi dan akses. Saat Hathaway hadir dengan custom Louis Vuitton, pesan yang sampai bukan hanya bahwa ia tampil mewah, tetapi bahwa ia masuk ke premiere film fashion dengan rumah mode yang punya bobot sangat kuat di industri.
Yang menarik, gaun ini tidak terlihat terlalu rumit. Tidak banyak aksen berlebihan yang membuatnya terasa sibuk. Justru kekuatannya ada pada warna, jatuh kain satin, dan kebersihan siluet. Pendekatan seperti ini penting karena menjaga agar merah tetap menjadi pusat. Seandainya gaunnya terlalu penuh detail, warna merahnya mungkin akan terpecah perhatiannya. Tapi dengan potongan yang lebih terukur, Hathaway seperti membiarkan warna dan kehadiran dirinya sendiri menjadi inti dari keseluruhan tampilan.
Secara visual, pilihan ini juga terasa sangat “Runway world” dalam arti yang tepat. Ia tidak kostumatis, tidak terlalu literal, tetapi tetap punya daya fashion editorial yang kuat. Itu membuat tampilannya cocok untuk sebuah sekuel yang memikul beban nostalgia besar sekaligus tuntutan untuk tampak modern di 2026.
Lalu, ada satu detail lain yang tidak kalah menarik, yakni bagaimana penampilan ini berdialog dengan bintang lain pada malam yang sama.
Saat Meryl Streep juga memilih merah, pembicaraannya jadi makin menarik
Premiere New York itu tidak hanya menampilkan Anne Hathaway dalam merah. PEOPLE dan Los Angeles Times sama sama mencatat bahwa Meryl Streep juga datang dengan gaun atau coat merah untuk premiere yang sama. Pada satu sisi, ini membuat palet malam itu terasa sangat kuat. Pada sisi lain, ini membuka pembacaan menarik tentang bagaimana dua pusat utama waralaba itu seolah hadir dalam bahasa warna yang saling berkaitan.
Dalam film pertama, hubungan Andy Sachs dan Miranda Priestly dibangun lewat ketegangan, adaptasi, dan perebutan posisi yang tidak pernah benar benar santai. Ketika kedua aktris utamanya kini sama sama masuk karpet merah dalam nuansa merah, publik tentu mudah membaca itu sebagai semacam dialog visual. Bukan berarti keduanya tampil identik, karena potongan dan aura pakaian mereka tetap berbeda. Tetapi pilihan warna yang bertemu di satu malam besar seperti ini membuat pembicaraan red carpet menjadi lebih kaya.
Bagi Hathaway sendiri, hal ini justru menambah nilai penampilannya. Ia tidak tenggelam di samping Streep. Sebaliknya, ia tetap punya ruang visual yang jelas. Ini memperlihatkan bahwa gaun merah Louis Vuitton yang ia pilih memang cukup kuat untuk berdiri di malam yang dipenuhi nama besar dan ekspektasi tinggi.
Sesudah premiere New York, Hathaway juga tampil lagi di London. Perbandingan dua momen ini ikut membantu membaca kenapa merah di New York terasa begitu penting.
New York merah, London gelap, dan keduanya memberi petunjuk berbeda
InStyle dan PEOPLE menulis bahwa pada premiere London, 22 April 2026, Hathaway tidak lagi memakai merah. Melainkan tampil dengan gaun custom Versace bernuansa lebih gelap, dengan elemen bustier berkilau dan siluet yang lebih dramatis. Pergeseran ini membuat look New York justru terasa semakin jelas sebagai momen yang sangat spesifik, bukan sekadar bagian dari rangkaian busana biasa di press tour.
Ketika dua premiere besar di dua kota besar menghasilkan dua bahasa visual yang berbeda. Penampilan New York bisa dibaca sebagai pembuka. Merah di New York tampil seperti pernyataan pertama yang sangat langsung, sangat mudah dibaca, dan sangat terhubung dengan identitas film. Sementara London terasa lebih seperti eksplorasi fashion yang lebih kompleks. Dengan kata lain, merah di New York bekerja sebagai pesan yang paling lugas.
Business Insider bahkan secara eksplisit menulis bahwa tampilan merah Hathaway selaras dengan angka 2 merah pada poster film. Ini memberi dasar yang cukup kuat bahwa look New York memang disusun sebagai simbol paling dekat ke promosi filmnya. Jadi, jika ditanya kenapa penampilan itu terasa begitu “berarti”. Salah satu jawabannya adalah karena gaun tersebut berfungsi bukan hanya sebagai busana karpet merah. Tetapi juga sebagai perangkat visual promosi yang sangat efektif.
Itulah sebabnya pembicaraan tentang tampilannya tidak berhenti pada urusan cantik atau tidak. Pakaian itu melakukan pekerjaan yang lebih besar.
Yang sebenarnya dijual adalah rasa kendali
Kalau seluruh penampilan itu diringkas ke dalam satu gagasan, maka hal paling kuat yang keluar dari Anne Hathaway malam itu adalah rasa kendali. Ia tidak tampak seperti orang yang datang untuk bereaksi terhadap sorotan. Ia tampak seperti orang yang mengarahkan sorotan itu sendiri. Merah, custom Louis Vuitton, siluet yang bersih, dan timing premiere yang sangat tepat, semuanya bergerak ke titik yang sama. Hathaway datang sebagai figur yang tahu betul bagaimana dirinya harus dibaca.
Dalam waralaba seperti The Devil Wears Prada, rasa kendali semacam ini selalu penting. Dunia yang dibangun film itu sangat menilai siapa yang terlihat paling siap, paling tahu permainan, dan paling mampu mengelola citra. Karena itu, penampilan Anne Hathaway di premiere sekuelnya terasa begitu pas. Ia bukan hanya tampak glamor. Ia tampak seperti seseorang yang sepenuhnya memahami bahasa dunia yang dulu hampir menelannya.
Dan mungkin di situlah inti paling menarik dari gaun merah itu. Ia tidak sekadar membuat Anne Hathaway terlihat menonjol. Ia membuat publik merasa bahwa sekuel ini akan datang dengan versi Andy Sachs yang jauh lebih sadar posisi. Lebih tenang, dan lebih kuat daripada yang terakhir kali mereka ingat dua puluh tahun lalu.





