Kala Pramono dan Basuki Hadimuljono Nostalgia
Kala Pramono dan Basuki Hadimuljono Nostalgia Dalam sebuah momen penuh kenangan, dua tokoh penting pemerintahan Presiden Joko Widodo—Pramono Anung dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono—tampak larut dalam nostalgia seputar perjalanan panjang pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Sebagai saksi sekaligus penggerak utama dari transformasi besar ini, keduanya mengulas kembali tantangan, visi, dan kenangan unik dalam proses pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur.
Latar Belakang IKN Nusantara: Visi Jokowi untuk Masa Depan
Menjawab Beban Jakarta
Pemindahan ibu kota negara bukan gagasan baru, namun di era Jokowi-lah langkah konkret diambil. Jakarta yang sudah mengalami kepadatan penduduk, kemacetan, dan penurunan daya dukung lingkungan menjadi alasan utama.
Pembangunan Berbasis Visi Jangka Panjang
IKN dirancang sebagai kota modern dengan konsep forest city dan smart city yang mengedepankan keberlanjutan. Proyek ini mencerminkan ambisi besar Presiden Jokowi untuk menjadikan Indonesia negara maju dan setara dengan pusat pemerintahan dunia lainnya.
Nostalgia Pramono: Dari Rapat Internal hingga Pemancangan Tiang Pertama
Rapat-Rapat Kecil yang Mengawali Nostalgia
Pramono Anung, Sekretaris Kabinet, mengungkap bahwa gagasan pemindahan ibu kota sempat menjadi perdebatan hangat di lingkungan istana. “Semula banyak yang skeptis,” ujarnya, mengenang pertemuan-pertemuan awal bersama Jokowi dan tim kecil.
Nostalgia Momen Bersejarah di Titik Nol
Salah satu yang paling berkesan bagi Pramono adalah saat Presiden Jokowi memancang tiang pertama di titik nol IKN. Baginya, itu bukan hanya simbol pembangunan fisik, tetapi momentum perubahan peradaban.
Basuki Hadimuljono: Tantangan Teknis dan Emosional
Dari Desain hingga Infrastruktur
Sebagai Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono bertanggung jawab langsung atas pembangunan fisik IKN. Ia menceritakan bagaimana setiap aspek teknis, mulai dari pemetaan kontur tanah hingga sistem drainase dan transportasi, dirancang dengan presisi tinggi.
Emosi di Balik Proyek Raksasa
Basuki mengaku sering terharu melihat progres lapangan. “Kadang saya diam sejenak di lokasi proyek. Ini bukan sekadar bangun jalan atau gedung, ini membangun sejarah,” ungkapnya. Baginya, IKN adalah warisan yang akan dibanggakan generasi mendatang.
Kolaborasi Antarkementerian dan Tantangan Politik
Bukan Tugas Satu Kementerian
Pembangunan IKN melibatkan lintas kementerian, dari ATR/BPN hingga Kementerian Keuangan. Pramono dan Basuki sepakat bahwa komunikasi yang intens dan koordinasi lintas sektor menjadi kunci.
Sorotan dan Kritik Politik
Meski sempat mendapat penolakan dari sejumlah kalangan, terutama terkait isu lingkungan dan anggaran, proyek IKN tetap berjalan. Bagi Pramono dan Basuki, kritik adalah bagian dari demokrasi, namun kerja nyata harus tetap dikedepankan.
Momentum Nostalgia Politik di Penghujung Masa Jabatan Jokowi
Nostalgia Simbol Kepemimpinan Jokowi
IKN menjadi semacam simbol kepemimpinan Jokowi yang berani mengambil risiko demi kemajuan bangsa. Kedua tokoh ini menyatakan bahwa hanya pemimpin dengan visi besar yang mampu menginisiasi proyek sekelas IKN.
Regenerasi dan Estafet Kepemimpinan
Dalam refleksi mereka, baik Pramono maupun Basuki berharap pemimpin berikutnya tetap melanjutkan proyek IKN demi kesinambungan pembangunan nasional.
Kesimpulan: Nostalgia Lebih dari Sekadar Kota Baru
Nostalgia yang dibagikan Pramono dan Basuki membuka mata kita bahwa IKN bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah representasi mimpi, tantangan, dan kerja kolektif dalam membangun masa depan Indonesia. Di balik beton dan baja, tersimpan cerita, air mata, dan harapan yang mereka tinggalkan untuk generasi penerus. IKN adalah warisan era Jokowi yang akan terus dibicarakan dalam sejarah negeri ini.





