Jalurmedia.com – Pemerintah telah meluncurkan program vaksinasi tambahan yakni vaksin booster untuk Covid-19. Pada Rabu 12 Januari 2022, pemerintah memutuskan sebagai langkah awal untuk mulai memberikan vaksinasi tambahan kepada masyarakat Indonesia. Artinya, jenis vaksin booster berbeda dengan vaksin dasar dari dosis pertama dan kedua.
Pemberian vaksin ketiga (booster) dilakukan untuk meningkatkan daya imun tubuh. Hal ini juga berkaitan dengan penyebaran dari mutasi baru virus Corona yakni Omicron.
Dikutip dari katadata, menurut Kementerian Kesehatan, penerima vaksin Sinovac hanya menerima setengah dosis dari vaksin Pfizer atau AstraZeneca. Pada saat yang sama, setengah dari penerima AstraZeneca akan divaksinasi dengan vaksin Moderna.
Beberapa penelitian saat ini sedang dilakukan untuk mengetahui seberapa efektif berbagai metode penyampaian stimulus ini ke vaksin booster ini. Rafael Araos dan Alejandro Jara dari Kementerian Kesehatan Chili menulis artikel tentang keampuhan dan pemberian vaksin Sinovac.
Menurut Araos dan Jara, dengan adanya vaksin Sinovac sebagai terapi booster meningkatkan efektivitasnya terhadap infeksi virus Covid-19 dari awalnya 50,18% menjadi 70,89%. Kemudian untuk peluncuran AstraZeneca meningkatkan efektivitasnya menjadi 90,53% dan Pfizer naik menjadi 93,18%.
Hasil penelitian dari Alasdair PS Mundro dkk terkait dengan vaksin primer (AstraZeneca dan Pfizer) menunjukkan bahwa pemberian dari booster awal meningkatkan kadar antibodi tiga kali lipat pada penerima vaksin AstraZeneca. Peningkatan antibodi ditemukan lebih tinggi ketika diberikan suntikan untuk booster Pfizer (25x) dan Moderna (32x).
Di sisi lain, pemberian AstraZeneca kepada penerima vaksin Pfizer asli meningkatkan antibodi 5 kali lipat, dan kekebalan Pfizer berikutnya meningkatkan antibodi 8 kali lipat dan memperbaikinya 11 kali lipat.
Aturan Kombinasi Vaksin Booster
Secara khusus, antibodi yang diperoleh setelah dosis kedua Pfizer lebih tinggi daripada setelah dosis kedua AstraZeneca. Ini juga menghasilkan tingkat antibodi yang lebih tinggi pada penerima pertama vaksin AstraZeneca.
Peneliti lain yakni Robert L. Atmar dkk melakukan studi vaksinasi utama Moderna oleh National Institutes of Health. Terkait dengan hasil penelitiannya maka ditemukan adanya peningkatan 8 kali lipat dalam antibodi terkait dengan pengiriman vaksin booster Moderna. Sedangkan untuk vaksin Pfizer ke vaksin booster Moderna peningkatan menjadi 8 kali lipat. Untuk vaksin Pfizer peningkatan menjadi lebih tinggi di 10 kali.
Sebagai acuan, ketiga penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan metode, sampel, dan titik waktu yang berbeda. Hal ini juga membuat tidak mungkin untuk membandingkan secara langsung hasil dari ketiga penelitian tersebut. Informasi yang diberikan di sini adalah untuk tujuan referensi saja.
Pemerintah Indonesia membuat persyaratan untuk penerima vaksin ini dikategorikan ke dalam usia 18 tahun ke atas. Selain itu syarat lainnya adalah bahwa penerima vaksin booster telah menerima vaksinasi dosis pertama dan kedua. Untuk target sendiri maka pemerintah telah membuat rencana untuk 21 juta masyarakat Indonesia menerima vaksin booster sejak mulai didistribusikan pada 12 Januari 2022.
Masyarakat yang ingin mendapatkan informasi terkait dengan vaksin booster maka dapat melakukan pengecekan pada laman PeduliLindungi. Kemudian akan dikoordinasikan dan disesuaikan dengan masing-masing wilayah terdekat dari penerima vaksin.





