Ilmuwan Hari Ini: Socrates Seorang Filsuf Yang Tak Menulis
Opini

Ilmuwan Hari Ini: Socrates Seorang Filsuf Yang Tak Menulis

Opini, Jalurmedia.comSebagai seorang filsuf kuno Socrates hidup dengan karyanya pada tahun 470 SM sampai dengan tahun 399 SM. Socrates adalah seorang figur pendiri filsafat Barat sekaligus filsuf yang paling teladan dan paling unik dari para filsuf Yunani lainnya.

Socrates dibesarkan pada zaman keemasan Pericles di Athena, ia menjabat sebagai prajurit terhormat. Lalu kemudian Socrates menjadi terkenal karena sering bertanya tentang semua semua hal.

Metode pengajarannya menjadi abadi dalam dialog. Tidak melibatkan penyampaian pengetahuan, melainkan mengajukan pertanyaan setelah mengklarifikasi pertanyaan sampai murid-muridnya sampai pada pemahaman mereka sendiri.

Socrates merupakan seorang filsuf namun tidak menulis apapun melalui tulisannya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang diketahui tentang dia disaring melalui tulisan-tulisan banyak orang sezaman dan pengikutnya terutama muridnya Plato. Socrates dituduh merusak pemuda Athena yang kemudian membuat ia dijatuhi hukuman mati.

Latar belakang Socrates

Socrates lahir pada tahun 470 SM dan meninggal pada 399 SM. Seperti kebanyakan orang Athena, ia belajar musik, puisi, dan tarian. Kemudian diantara usia 21 dan 37 ia belajar kosmologi, fisika, astronomi, dan matematika.

Pada usia 39 tahun Socrates terlibat dalam perang dan kemudian setelah itu ia semakin rajin untuk berdiskusi dan juga belajar. Dalam diskusi, ia yakin bahwa hal itu lebih akurat. Namun juga diskusi yang ia lakukan adalah untuk mengisi waktu luangnya. Namun ini mengundang simpati bagi yang mengagumi Socrates dan mengundang permusuhan dari orang-orang yang tersindir dan dikritik ide-idenya. 

Socrates mempertanyakan hampir setiap pertanyaan terkait dengan agama, moral, sosial, dan politik di Athena. Pada masa itu juga, Socrates semakin dikenal dengan sifat yang terpuji seperti kesederhanaan, kejujuran, kesetiaan, dan keramahan. Kemudian pada usia 70 tahun, ia dijatuhi hukuman mati karena atas tuduhan menghina keyakinan agama dan memprovokasi kaum muda.

Socrates dikenal sebagai filsuf besar Yunani. Mengetahui pikiran Socrates adalah kunci untuk memahami pemikiran manusia 2500 tahun yang lalu. Hal ini dimulai ketika Socrates memulai cara berpikir rasional tentang pengetahuan, kebenaran, manusia, dan kehidupan.

Socrates juga memperkenalkan cara berpikir baru tentang dirinya dan hidupnya, cara berpikir yang didasarkan pada pemikiran daripada spiritualitas. Dia sering dengan hati-hati menantang kebijaksanaan konvensional. Gunakan diskusi dan percakapan sebagai alat pencariannya.

Socrates menetapkan nilai dan prinsip yang berharga bagi kita. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip ini juga dapat menginspirasi orang untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan membangun komunitas yang lebih baik.

Konsep mengenal diri dan tuhan menurut Socrates

Socrates memberikan pandangan bahwa adalah suatu hal yang mustahil bagi seorang manusia mengetahui sesuatu yang hakiki dari suatu realitas yang ada. Hal ini terkait dengan jika manusia tidak mengetahui manusia lainnya atau keberadaannya sebagai seorang manusia. Adalah mustahil jika manusia tidak mengenali dirinya kemudian mengetahui manusia.

Makna aneh yang terkait adalah makna ketuhanan yang didukung oleh berbagai gagasan. Orang langsung banyak bertanya ketika segala sesuatunya ada atau diketahui ada.

Scorates melalui metode sokratiknya, yang memiliki banyak pertanyaan untuk didialogkan dengan lawan bicaranya, yakni para pemuda di Athena. Sebelum ia merealisasikan ajaran dan prinsipnya di Athena, ia telah mengokohkan pemikirannya hingga sangat konsisten.

Menurut Socrates kuncil untuk mengetahui dunia yang universal adalah dengan pengetahuan akan diri sendiri dan mengenali diri sendiri. Pengetahuan diri adalah salah satu gerbang menuju pengetahuan secara global. Oleh karena itu, tidak dapat disangkal bahwa Socrates menemukan banyak rahasia tersembunyi dalam kebenaran apa yang terjadi.

Tetapi masalahnya diperumit oleh fakta bahwa Socrates tidak menulis dan pemikiran-pemikirannya tidak dibukukan atau dituliskan. Namun meskipun pemikiran dan gagasan Socrates tidak pernah dibukukan, namun murid dan pengikutnya lah yang membukukan melalui tulisan seperti apa yang dilakukan Plato sebagai murid dari Socrates.

Diantaranya murid dari Socrates seperti Aristophanes 9 pengarang komedi termasyhur di Athena) katak-katak dan awan-awannya, Xenophon dalam Memorabilianya (kenangan akan Socrates), Plato dalam Faedonya (dialog-dialog bersama Socrates)  dan Aristoteles (Murid Plato) dalam Metafisikanya.

Socrates dan idealisme

Bentuk dialog ketuhanan sangat terlihat pada saat-saat terakhir kehidupan. Ketika dia tidak memilih opsi yang diajukan oleh pemerintah untuk menghancurkan keyakinan yang dia pegang semata-mata demi hidupnya yang sia-sia. Ia lebih memilih meminum racun mematikan, dengan tujuan supaya ajaran dan prinsip hidup tetap dalam keabadian yang berharga

Konsistensi pengetahuan yang diperoleh dari Socrates membujuk para kritikus untuk secara implisit mencari stereotip atas pola ketuhanan Socrates pada zamannya. Karena dia disalahpahami oleh orang dewasa pada masa itu karena dia dipandang sebagai “penyebab kerusakan atas gagasan”. Dimana keberagamaan saat itu yang masih menyembah berhala. Hingga, ia divonis hukuman.

Dalam dialektikanya, Socrates menegaskan bahwa berhala tidak dapat memberikan bahaya ataupun untung bagi dirinya. Hal ini merupakan penolakan yang besar pada masa itu atas pemerintah setempat kepada Socrates. Dalam kisah hidupnya, ia pernah diajak raja Yunani untuk ikut dalam perang agar ia ikut menyembah berhala, tetapi dengan tegas ia menolak ajakan tersebut dengan argumennya yang tetap ogis.

Selain itu, hukuman Socrates terkait dengan penolakannya terhadap demokrasi. Socrates meragukan demokrasi dalam sikap dan pemikirannya. karena pandangannya bahwa “Bagaimana pemerintah akan bertahan? jika dikendalikan oleh pembicara.” Ungkapan ini ditulis oleh Plato dalam karya milikinya yakni Protgoras.

Bagi Socrates negara dan pemerintah akan bertahan jika dipimpin oleh warga negara yang cerdas. Hal ini didasarkan pada argumennya bahwa negara dan pemerintah tidak dapat mencapai kemakmuran jika sistemnya dikendalikan oleh massa dan tidak dipahami. (sebuah sistem untuk memasukkan demokrasi).

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *